JOGJA—Puluhan jurnalis dari DIY dan Jawa Tengah berlatih mengidentifikasi disinformasi serta propaganda asing.
Pelatihan yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia itu bekerja sama dengan AJI Yogyakarta, Internews dan Uni Eropa selama dua hari di Yogyakarta, yakni Sabtu (1/1) hingga Minggu (1/2).
Salah satu trainer dalam workshop bertajuk “Penelusuran Sumber Terbuka & Disinformasi” Ikaningtyas mengatakan tren propaganda saat ini tidak hanya berupa disinformasi tetapi juga propaganda dari pihak luar. Hal itu sejatinya bisa diidentifikasi atau dibongkar oleh jurnalis dengan sejumlah tools atau aplikasi yang tersedia di Internet.
“Dulu disinformasi lewat radio, televisi, kini lewat media digital seperti media sosial. Isunya lebih luas soal politik, kesehatan, bisnis, untuk penipuan dan greenwashing,” kata Ikaningtyas, Sabtu.
Disnformasi dan propaganda ini kata dia bisa saja menguntungkan aktor tertentu termasuk pihak asing. Disinformasi ini semakin masif karena didukung oleh kecerdasan artifisial atau AI. Bahkan kata dia, media tidak sadar ikut memperluas disinformasi tersebut.
Untuk itu jurnalis perlu dibekali dengan keterampilan mengidentifikasi disinformasi hingga melakukan cek fakta dengan berbagai tools yang tersedia.
Adapun workshop “Penelusuran Sumber Terbuka & Disinformasi” diikuti oleh 25 Jurnalis dari DIY, Semarang dan Solo. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Indo-Pacific Media Resilience (IPMR) yang diinisiasi oleh Uni Eropa. Workshop ini bertujuan membekali 150 jurnalis dengan pengetahuan kontekstual dan keterampilan teknis untuk mengenali, menganalisis, dan melawan berbagai bentuk disinformasi. Inisiatif ini juga menekankan penguatan jejaring kolaboratif media untuk mendukung
integritas jurnalistik dan kualitas informasi di Indonesia. (**)

